D . U . D . I

13 March 2008

“Ibuku Pahlawanku”

Filed under: Pelajaran

Trisnawati, Gadis yang Masih Trauma setelah Diselamatkan Ibunya dari Terkaman Buaya
Naluri seorang ibu adalah melindungi anak dari bahaya apa pun. Ini sudah dilakukan Ny Rohima. Tanpa berpikir panjang, dia nekat bergumul dengan buaya yang menerkam putrinya. Sang putri bisa diselamatkan. Hingga kemarin, dia masih tergolek lemah di rumah sakit.

ASEP YUSRIANSYAH, Palembang

Peristiwa itu tak akan pernah dilupakan Ny Rohima seumur hidup. "Saya sebenarnya takut dengan buaya. Dengan ular saja saya tidak berani," kata wanita 40 tahun itu, yang kemarin ditemui wartawan Sumatera Ekspres (Grup Jawa Pos) di RSU Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel).

Hampir setiap hari Rohima harus menunggui putri keduanya itu yang sudah dirawat di rumah sakit selama sepekan. "Anak saya masih sering menggigau kalau tidur. Karena itu, saya harus menunggui dia setiap malam," cerita wanita yang wajahnya terkesan lebih tua dari usianya itu.

Selain tak tega meninggalkan sang putri yang tergolek sakit, Rohima harus berhitung waktu dan biaya jika pulang-pergi ke rumah sakit.

Maklum, dari rumah sakit ke rumah Rohima di Desa Mukut, Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, harus naik speed boat. Tidak bisa dengan jalan darat. Perjalanan lewat sungai itu ditempuh dalam waktu 2,5 jam.

Kemarin Sumeks sebenarnya berniat mewawancarai Trisnawati. Tapi, gadis 25 tahun itu sulit diajak bicara. Wajahnya masih terlihat tegang. "Pasien masih trauma, Mas. Tolong, jangan diwawancarai dulu," sergah salah seorang perawat di RSU Banyuasin.

Menurut Rohima, peristiwa diterkam buaya itu memang menyisakan trauma mendalam bagi putrinya. "Dia jadi takut sungai. Dia sering mengatakan kepada saya, kalau sudah sembuh, tidak akan pergi ke sungai lagi," paparnya.

Rohima bisa memahami mengapa putri keduanya itu sangat trauma. "Peristiwa itu memang sangat mengerikan," kata Rohima dengan kedua mata menerawang.

Dia menceritakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 06.00. Saat itu Trisnawati pergi ke Sungai Batang Hari Mukut untuk mandi. Rumah Trisnawati memang hanya 100 meter dari sungai. "Pagi itu suasana di sungai memang masih sangat sepi," tuturnya.

Ketika asyik mandi, tanpa diduga seekor buaya langsung menyambar kaki Trisnawati. Gadis itu kontan menjerit minta tolong. Beruntung, saat itu Rohima berada di halaman rumah. Dia mendengar suara jeritan dan langsung menebak bahwa itu suara putrinya.

Rohima berlari sekencang-kencangnya ke sungai. Rohima menyaksikan tubuh putrinya diseret buaya ke arah tengah sungai. "Buaya itu besar sekali. Warnanya agak kehitaman. Panjangnya kira-kira 7 meter," cerita Rohima.

Kejadian itu membuat darah Rohima mendidih. Apalagi, dia menyaksikan tubuh anaknya yang sedang meronta-ronta itu dipermainkan buaya, dimunculkan ke permukaan, lantas ditenggelamkan, dimunculkan, lalu ditenggelamkan.

"Saya langsung mencebur ke sungai, mendekat ke arah hewan keparat itu," katanya dengan nada tinggi. Padahal, sebelumnya Rohima mengaku sangat takut dengan buaya. "Karena anak saya diterkam, rasa takut itu hilang," ceritanya.

Begitu mendekat, dengan sekuat tenaga Rohima bergumul dengan buaya itu. "Saya tendang-tendang tubuhnya. Mulutnya yang menggigit kaki Trisna saya pegang, saya buka, agar gigitan itu lepas," tuturnya bersemangat.

Upayanya membuahkan hasil. Kaki kanan anaknya akhirnya lepas dari gigitan buaya. Dengan cepat Rohima membawa anaknya ke tepi sungai. Trisna sudah dalam keadaan pingsan.

Rohima sangat bersyukur karena bisa cepat menolong putrinya. "Begitu melihat anak saya diterkam, saya sempat mengira nyawanya tidak akan tertolong," katanya.

Saat itu dia berpikir, meski tak bisa menyelamatkan nyawa putrinya, setidaknya bisa mengambil jasadnya. "Ternyata Allah masih menyelamatkan anak saya," ujarnya.

Kini, sepekan berlalu, kondisi Trisna belum pulih. Dia menderita luka sangat serius di kaki kanan, mulai paha, betis hingga tungkai. "Lukanya sangat dalam. Total harus menerima 50 jahitan," kata perawat.

Peristiwa itu membuat warga di desa tempat tinggal Rohima diliputi kecemasan. Sejak tragedi itu, kehidupan warga di sana berubah. Jika awalnya mereka kerap memanfaatkan air sungai untuk berbagai keperluan, mulai memasak, mencuci hingga mandi, kali ini tidak lagi.

Mereka takut buaya akan muncul sewaktu-waktu. "Peristiwa yang dialami Trisna membuat kami tak berani lagi pergi ke sungai," kata Ismail, 60, salah seorang warga Desa Mukut.

Dia menceritakan, buaya di sungai itu ada sejak dia pertama menginjakkan kaki di Desa Mukut pada 1963. "Sebelum desa didiami, Sungai Mukut memang sudah banyak buayanya. Buaya tersebut beranak cucu di sungai itu sehingga jumlahnya mencapai puluhan ekor," katanya.

"Tapi, buaya-buaya itu tak pernah mengganggu. Baru kali ini mereka menerkam warga," paparnya.

Dia melanjutkan, keganasan buaya tersebut dimulai awal Februari lalu. Hingga kini, tiga orang telah tewas dan satu terluka," ujarnya.

Salah satu korban tewas adalah Putra Rojal, 25, anak kepala Dusun (Kadus) Kampung II Desa Mukut. Rojal tewas setelah diseret buaya ketika mandi pagi di Sungai Mukut, sekitar awal Februari lalu.

Di tempat terpisah, Kepala Desa (Kades) Mukut Ismiyanto mengaku sudah menghimpun relawan untuk diajak menangkap buaya. Upaya itu didukung aparat Dandim, Koramil, Polres, dan polisi hutan. Pawang buaya juga dilibatkan.

"Bagaimana teknisnya? Apakah ditangkap atau dibunuh, kita lihat saja bagaimana kondisi di lapangan. Jika sulit ditangkap hidup-hidup, terpaksa ditembak mati saja. Yang penting, buaya tersebut tidak mencelakai penduduk lagi," kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Banyuasin Ali Imron Bamin, dihubungi melalui Kasubag Sarana Prasarana dan Perlindungan Mursyid. (*)

 

http://www.jawapos.com - 13 Maret 2008 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://dudi.blogsome.com/2008/03/13/ibuku-pahlawanku/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main