Kenyamanan Semu Sahabat Palsu
Dari milis tetangga :
Arti seorang sahabat dalam kehidupan setiap manusia memang penting, walau gak melulu setiap manusia punya sahabat dan ingin memilikinya. Kadang dalam beberapa kondisi kita memerlukan hadirnya sosok sahabat yang dapat membantu menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi. Atau sahabat itu hadir hanya sekedar mendengarkan keluh kesah sabahatnya, tapi itu cukup membantu dan melegakan.
Sahabat akan dengan senang hati membantu dan menemani kita dalam kondisi apa pun. Sahabat tidak akan meninggalkan kita ketika mengetahui kejelekan (bahkan semuanya keburukan yang tampak di matanya) ada pada diri kita. Ia menjadi sosok penyokong dalam kehidupan kita. Sahabat adalah orang yang dapat mengetahui apa-apa yang tak dikatakan.
Apakah antum memiliki seorang atau beberapa orang sahabat? Jika ya… Selamat! tapi,…
Begitu luasnya makna persahabatan kadang sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Yang mengatasnamakan persahabatan dan menjalin ukhuwah dengan lawan jenis juga mengatasnamakan persahabatan. Padahal, niat ikhlas yang awalnya hanya sekedar ingin menolong (biasanya ikhwan yang ingin menolong teman akhwatnya), malah terjerumus menjadikan seseorang itu menjadi sahabatnya, ya, sahabat ‘dekat’nya. Di pihak yang ditolong pun demikian, ia juga menjadikan sang penolong itu menjadi super hero baginya, sahabat yang tak tergantikan. Sedikit demi sedikit alur kehidupan masing-masing diceritakan lebih mendalam, hingga tidak ada pihak lain (sahabat sebenarnya) yang boleh mengetahui pembicaraan mereka. Mereka begitu introfert dengan orang lain. Tapi terbuka sekali dengan ’sahabat’nya ini.
Tapi, kadang orang sering menyalahi aturan-aturan yang sudah jelas-jelas DILARANG. Entah karena hati yang sudah tidak sabar ketika menyadari terlalu cepatnya pertumbuhan cinta yang ada di dalam dadanya. Atau karena memang nafsunya yang sudah memperalat dan menguasai jiwa dan ruhaninya.
Sesungguhnya ketika hati seorang anak manusia telah condong kepada lawan jenisnya, dan ia terus dan terus memupuknya maka cinta itu akan tumbuh dengan suburnya. Dan ketika ia coba untuk membunuhnya dengan cara perlahan, sungguh ia bagai memangkas daun-daun dan batangnya saja dari sebuah tanaman yang hasilnya akan kembali subur dengan air hujan dan sinar matahari, bahkan bisa menjadi lebih besar dan daunnya akan semakin lebat.
Mengapa ia tidak mencari akarnya, sumber dari masalah itu. Saya yakin kita pasti dapat menemukan akar itu. Yang tau mengenai kita hanyalah Allah dan diri kita sendiri. Jadi seberat apa pun, dan sesulit apa pun, saya yakin kita pasti sanggup untuk melawan itu. Tidak mungkin Allah menguji hambanya sampai-sampai ia tidak sanggup untuk memikulnya. Masalahnya adalah bagaimana ia dapat sabar menghadapinya, dan penyikapan yang dapat menghantarkannya pada derajat yang lebih tinggi. Ya, karena Allah menyayangi kita.
Seperti dikisahkan ketika sayyidah Fatimah melihat ayahnya menangis hingga wajahnya pucat dan pipinya menjadi cekung. Ia bertanya kepada ayahnya mengapa sampai ayahnya menangis seperti itu. Nabi saw menjawab bahwa malaikat Jibril telah datang kepadanya, kemudian ia menggambarkan kondisi neraka. Neraka mempunyai tujuh pintu, dan pintu-pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu celah api. Pada setiap celah ada tujuh puluh ribu peti mati dari api, dan setiap peti berisi tujuh puluh ribu jenis azab. Dan yang mendapat azab seperti itu adalah Umatnya yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak memelihara shalat, dan azab itu tidak seberapa dibangingkan dengan azab-azab yang lainnya..
Dari kisah tersebut, dapat kita ketahui bahwa orang yang memperturutkan hawa nafsunya dapat mendapat ganjaran seperti itu. Masya Allah, apakah kita termasuk salah satu di antaranya. Na’udzubillahi mindzalik.
Allah telah menganugerahkah hati yang kalau hati itu baik, maka baik semua anggota yang lain. Tetapi, jika hatinya buruk, maka buruk juga semua anggota yang lain.
Rasa suka atau tertarik kepada lawan jenis itu memang sudah menjadi fitrahnya manusia. Tapi bagaimana cara kita menjaga ‘fitrah’ itu hanya dengan orang yang berhak mendapatkannya. Jangan kita malah mengumbarnya semau kita. Managemen untuk hati itu penting. Kalau sudah ada yang singgah di hati, waahhh… ujung-ujungnya kita yang akan sakit sendiri (kalau kita salah menempatkan hati tentunya). Berkhalwat dengan bukan muhrimnya, masya Allah, sudah sangat amat sering kita temui, tapi kebanyakan pelakunya tidak sadar diri. Mereka sering kali menganggap hal itu wajar. Dari sekedar sms tausyah (yang tanpa sengaja telah mengotori hari saudara/inya yang mendapat kiriman itu) yang sampai akhirnya malah saling curhat, menceritakan kisah hidup yang gak penting buat diceritakan kepada yang bukan mahrom itu. Tukeran hadiah, janjian bareng dengan alasan tugas atau apa pun itu, saling suport, dan akhirnya ketergantungan yang hadir di antara jiwa-jiwa itu. Rasa membutuhkan yang amat ketika salah satu tidak memberi sms tausyahnya, merasa sedih ketika salah satu tidak menanggapi curahan isi hatinya, dan merasa kehilangan ketika tidak ada lagi hadiah yang mampir menghampiri paginya (walau hadiah itu cuma senyuman atau sekedar sapaan).
Wahai sahabat, sadarlah engkau dari semua ini, bangunlah engkau dari tidurmu yang di dalamnya ada mimpi buruk itu. Tidak akan ada pengganti sebaik pasanganmu mendatang yang jika engkau selalu memperbaiki akhlakmu sejak kini. Karena di sana, beliau (calon pendamping kita) juga sedang memperjuangkan dirinya untuk segera menemui kita, dengan memperbaiki akhlaknya. Tapi ketika kita sekarang, di sini sedang berkhalwat dengan non mahrom, jangan salahkan ‘beliau’ juga ketika sekarang pun sedang berkhalwat dengan orang lain. Ketika sekarang, kita sedang banyak-banyaknya menimba ilmu Allah, bergembiralah karena ‘beliau’ pun sedang menimba mereguk ilmuNya Allah yang Mahaluas itu. Doakan selalu yang terbaik untuk ‘beliau’ dengan begitu, ‘beliau’ pun sedang berdoa kepadaNya agar kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Hingga nanti dipertemukan Allah dalam keadaan yang sebaik-baiknya.
Aamiin…
Saudara/iku, hidup itu sebuah pilihan, seperti Allah juga memberikan pilihan buat kita hambanya, manusia, dan makhluk ciptaanNya untuk memilih kafir atau tetap berada di jalaNya.
Jangan biarkan dirimu jatuh terlena dalam nafsu sesaat yang akibatnya dapat memengaruhi kehidupan akhiratmu. Tinggalkan ‘kenyamanan-kenyaman an‘ semu yang hanya menipu kita. Di sana syetan tertawa melihat kita ‘kalah‘ dalam peperangan yang kita ciptakan sendiri.
Saya (yang sedang memperbaiki diri) menulis kali ini karena sedih melihat saudara/i yang sedang ber’sedih’ karena hal-hal ‘duniawi’
Wallahu’alam bish showab
Rafa Zulfah al-Faqir ilallah
Bekasi, 5 Januari 2008 11.30

