Gembel Necis
Ketika aku berdiri menggelantung di dalam sebuah bus transJ Ragunan-Kuningan tadi pagi, melintas sebuah metromini 75 dengan tulisan gedhe di kaca belakang “Gembel Necis” . Sejenak tersenyum lucu, namun kemudian berpikir apa maksudnya…
Hmm, lalu iseng baca berita milis, akhirnya ada artikel yang bisa menjawab tanyaku tadi.
berikut copy paste dari milis tsb …
WONG NDESO
Posted by: “Kusuma, Hendra” hendra.kusuma@nielsen.com
Fri May 9, 2008 3:00 am (PDT)
Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan,
udik, shock culture, Countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau
merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa
takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak
ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap
hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan
mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus
mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan
harapan orang yang diajak
juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.
Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap
langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa,
seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus
berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain,
serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan
alias deso.
Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau
bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si
Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana.
Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah
Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo
naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia
naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.
Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara ceremoni
dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri,
saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai Merk Holden baru
yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para
pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan
tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana
pengawalnya.
Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand.
Dia seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah selesai S3,
sekarang lagi mengikuti program Post Doc, Dia anak serorang pengusaha
yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah
jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.
Satu bulan saya di jepang tidak melihat orang pakai hp communicator,
mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca Koran ternyata
konsumen terbesar hp communicator adalah Indonesia. Sempat berkenalan
juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata
dia anak seorang pejabat tinggi Negara, juga naik kereta. Yang tak
kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di
pakai
masyarakat jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa yaa?
Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di jepang atau di
Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau
rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu
pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang
jepang diajak ke Pondok Indah bisa Pingsan melihat rumah segitu gede
dan mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa
dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun
banyak yang lesehan.
Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang lagi numpuk, rakyat banyak
yang mulai ngamuk, Negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak
tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat
dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing,
banyak ceremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek
mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst
Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan
tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS
(di Malaysia “Wanita Tak Senonoh”) , angka kriminal rendah, korupsi
berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang
Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa
menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah
karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang
dipakai adalah Negara normal atau bahkan mengikut Negara maju.
Bayangkan ada daerah yang menganggarkan Sepak Bola 17 Milyar sementara
anggaran kesranya 100 juta, wiiieh!
Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari
atas sampai bawah :
- Orang bisa antri Raskin sambil pegang hp
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli tv dan kulkas
- Orang bule mabuk krn kelebihan uang, Orang kampung mabuk beli minuman patungan
- Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
- Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
- Orang beli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
- Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di cibubur
- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk Mc Donald
- Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan.
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp
- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di
acara tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
- Agar kelihatan inklusif mk hrs bisa menggandeng siapa saja, kl perlu
jin tomang jg digandeng
Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere,
maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu
dirinya kere.
*) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini bertempat tinggal di
Paris, Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah satu
stasiun di Perancis.


Selama katrox-nya itu ndak nggumunan, ngisin2i, plus nggriseni… saya kira menjadi katrox lbih baik.
Katrox dgn kejujuran dan keluguan akan sekitar yg memang tidak ia ketahui sbelumnya.
Katrox yg membuatnya kagum lalu termotivasi untuk minimal menjadi serupa, dan maksimal menjadi jauh lebih baik…
Mending katrox dan gak tahu apa - apa tpi jujur dan mau berusaha, daripada pinter tpi meng-katrox-kan diri, demi ambisi yg ingin dimakan sendiri…
Lalu masih salahkah menjadi katrox? Ya..sperti saya yg lgi ngoceh ndak jelas di sini ini….
Comment by -mbemz- — 22 May 2008 @ 12:46 pm