BI
[potret amatir]
Langit kelam di atas gedung BI, sekelam pemberitaan media.
Liputan 6 pagi, Nuansa Pagi, Redaksi Pagi, Cerita Pagi, Liputan 6 siang, Reportase sore, Seputar Indonesia, Koran, detik.com…
Hampir semua media membahas pembunuhan berantai yang terkuak setelah peristiwa mutilasi ragunan terungkap.
Siapa pelakunya ? Salah seorang gay, lelaki penyuka sesama jenis.
semenjak itu, satu persatu berita mulai mengekspos dunia per-gay-an. Bagaimana lingkungan mereka, dimana biasanya komunitas mereka, sampai apa yang menyebabkan mereka menjadi begitu.
Banyak alasan, mulai dari pelampiasan sakit hati karena punya pengalaman pahit dengan wanita, orang tua yang salah mendidik anak laki-laki dengan didikan kemayu (pakaian, tingkah laku, dsb), atau (mungkin) takut berkeluarga sehingga mencari pasangan yang tidak seharusnya.
Pelan-pelan kaum ini mulai berkembang di Indonesia, sebuah negeri yang (katanya) mengharamkan hubungan sejenis semacam ini.
APAKAH, Indonesia akan menjadi The Next SODOM? sebuah negeri yang dilaknat Oleh Allah dan semesta alam, dijungkir-balikkan dengan hujan batu tanpa ampun… ? Semoga tidak…
@#$%#$#^&*%@!?>*^&($)#*@#&%@*%$(@
Dengan suara berat, bapak imam itu berbalik mengucap salam seketika selesai sholat Dhuhur.
Sambil terisak, beliau mengingatkan jamaah akan pentingnya bulan Rajab ini, sembari berdoa semoga dipanjangkan umur hingga mencapai Ramadhan tiba.
Di usia yang mulai senja, beliau masih sangat memikirkan bangsa ini. Beliau sangat menyayangkan berbagai kejadian yang berkaitan dengan Islam. Terutama masalah Ahma**y*h. Yang sangat beliau khawatirkan adalah justru peran para public figur yang berada di balik itu semua.
Satu pesan yang benar-benar membuatku harus intropeksi.
"Pemuda Islam itu jangan cuma bisa Sholawatan. Berbuatlah sesuatu untuk Islam dan untuk bangsamu."
Duh Gusti, Bapak imam itu masih sangat mencintai bangsa ini. bagaimana denganku… ?
kucoba kembali menuliskan URL friendster di browser. mencoba kembali sejenak ke dunia yang pernah kusinggahi.
terbersit sedikit (sangat sedikit) rasa sesal, mengapa dulu aku binasakan rumah FS ku.
kucoba kunjungi lagi rumah teman-temanku. teman pertama, teman kedua, dan beberapa teman ketiga.
ada yang langsung membuka pintu, ada yang malu-malu untuk membuka, ada juga yang sama sekali tidak mau (suka) dikunjungi.
berbagai macam gaya mereka peragakan, ada gaya penyanyi, gaya polisi, gaya dokter, gaya ibu rumah tangga, gaya mahasiswa, sampai gaya culun (cupu plenyun).
ahh..
tapi, ada satu rumah yang tidak kunjung kutemukan, ternyata dia sudah pindah rumah (atau dibongkar ?).
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main