D . U . D . I

12 September 2008

Janganlah Begitu..

Filed under: Pelajaran

"Bermegah-megah telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur,
janganlah begitu karena kelak kamu akan mengetahui,  janganlah begitu
kelak kamu akan mengetahui akibat dari perbuatanmu dengan pengetahuan
yang yakin, niscahya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim dan
sesungguhnya akan melihat dengan  ainulyaqin, pada saat itu kamu akan
ditanyai tentang kenikmatan yang kamu megah-megahkan di dunia"  (At
Takatsur)

Mungkin kisah ini fiktif, entah benar atau tidak.
Wallahualam. ..Tapi bisa kita ambil hikmahnya.
Semoga berkenan, dan bisa diteruskan ke teman lain.

Bocah aneh menghendaki  bercahayanyahati manusia

Bocah itu menjadi pembicaraan di kampung Ketapang. Sudah
tigahari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak
sebayanya, menggodaanak- anak remaja di atasnya,dan bahkan orang-orang
tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.

Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda
denganberjalan ke sana ke mari sambil tangan kanannya memegang roti
isidaging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang
es kelapa,lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat
di plastik es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung
melihatnyabukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi di tengah hari
pada bulan puasa! Bulan ketikabanyak orang sedang menahan lapar dan
haus. Es kelapa dan roti isi daging tentusaja menggoda orang yang
melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan
selama tigahari semenjak bocah itu ada, matahari di kampung itu lebih
terik dari biasanya.
Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai bocah
itu. Mereka tidak beranimelarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan
memeragakan bagaimana dengannikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti
isi daging tersebut. Pernah ada yangmelarangnya, tapi orang itu kemudian
dibuat mundur ketakutan sekaliguskeheranan. Setiap dilarang, bocah itu
akan mendengus dan matanya akanmemberikan kilatan yang menyeramkan.
Membuat mundur semua orang yang akanmelarangnya.
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang
kampung,belakangan ini, setiap ba’da dzuhur, anak itu akan muncul
secaramisterius.  Bocahitu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama
dengan hari-hari kemarin danakan muncul pula dengan es kelapa dan roti
isi daging yang sama juga!

Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu dating lagi. Benar, ia
menari-nari denganmenyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas
membuat orang lain menelan ludah, tanda inginmeminum es itu juga. Luqman
pun lalu menegurnya. Cuma,ya itu tadi, bukannya takut, bocah itumalah
mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar.

‘Bismillah.. .’ ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan
bocahitu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu
bocahjadi-jadian, ia akankorek keterangan apa maksud semua ini. Kalau
memang bocah itu ‘bocahbeneran’ pun, ia juga akan cari keterangan, siapa
dan dari manasesungguhnya bocah itu..

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti
tarikan tanganLuqman. . Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan
halus bocah itu, dan membawanya ke rumah.Gerakan Luqman diikuti dengan
tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yangmelihatnya.

Ada apaTuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti
isi daging ini?Bukankah ini kepunyaan saya?’ tanya bocah itu sesampainya
di rumah Luqman,seakan- akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang
kelakuannya. Matanya masihlekat menatap tajam pada Luqman.

‘Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulanpuasa, ‘ jawab
Luqman dengan halus,’apalagi kamu tahu, bukankahseharusnya kamu juga
berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapimalah menggoda
orang dengan tingkahmu itu..’
Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya,
mengomeli anak itu.Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman
selesai. Ia menatap Luqman lebihtajam lagi.

‘Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah
kalian yang lebih seringmelakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian
selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidupdi bawah
gariskemiskinan pada sebelas bulan di luarbulan puasa?

Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan,
denganmenimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami?
Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang
sedangmenangis?
Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja
sakit menyerang,sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan
hingga kematianmenjemput ajal..?!
Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja
bagi kalian untukmenahan lapar dan haus?

Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar,
kalian kembalipada kerakusan kalian..!?’
Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada
Luqman untukmenyela.

Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata
begitu tegas danterdengar ’sangat’ menusuk, kini ia bersuara lirih,
mengiba.
‘Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami
senantiasaberpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak
ada makanan yangbisa kami makan.Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang
siang saja.
Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling
Tuan lah yangmenyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa
mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambutRamadhan dan ‘Idul Fithri?
Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan
makanan yangluar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas
kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?
Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami
menangis, bahkan padabulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang
seadanya pula.
Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda
kami, dua belasbulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini.
Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalianlakukan juga terhadap
orang-orang kecil seperti kami…!
Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidakabadian harta? Lalu kenapakah
kalian masihsaja mendekap harta secara berlebih?
Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang
sekeliling Tuantertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya
diingat?
Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan
bukan hanya padapenggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.
Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akanmenimpa?
Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi.
Tuan…, janganmerasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan
pangan ‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akanpernah
menyatu dengan bumi kelak…’
Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman.
Kalimat demi kalimatmeluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa
dihentikan.
Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar
adanya! Halini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah
sembarangan.
Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi
begitu sajameninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.

Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan
bumi. Begitusadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke
tepian jalan rayakampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut
yang bisa dilihatnya,tapi ia tidak menemukan bocah itu.

Di tengah deru nafasnyayang memburu, ia tanya semua orang di
ujung jalan, tapi semuanya menggelengbingung. Bahkan, orang-orang yang
menunggu penasaran di depan rumahnya pun mengaku tidak melihatbocah itu
keluar dari rumah Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah
menghilang!  Luqman tidak mau main-main. Segera iaputar langkah, balik
ke rumah.  Iaambil sajadah, sujud dan bersyukur.  Meskiperistiwa tadi
irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yangmasuk akal
saja.  Bahwamemang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi.
Bocah tadi memberikan pelajaran yangberharga, betapa kita sering
melupakan orang yang seharusnya kita ingat. Yaitumereka yang tidak
berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidakmemiliki
penghidupan yang layak.
Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya
mereka yang sedangberada di atas, yangsedang mendapatkan karunia Allah,
jangan sekali-kali menggoda orang kecil,orang bawah, dengan berjalan
membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahanyang berlebihan.

Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila
kita terusmenjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang
membungkukmenahan lapar.
Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya
hikmah yang luarbiasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut
mati mata hatinya.
Sekarang yang ada di pikirannya,entah mau dipercaya orang atau
tidak, ia akan mengabarkan kejadian yangdialaminya bersama bocah itu
sekaligusmenjelaska n hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang
yangdikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang
menghendakibercahay anya hati.

Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak ituLuqman
tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman
rindukalimat- kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul
adanya. Luqmanrindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang
berani menunjuk hidungnyaketika ia salah.

 

* sumber milis tetangga

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://dudi.blogsome.com/2008/09/12/janganlah-begitu/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main