D . U . D . I

14 February 2009

Sempat Grogi, Banjir Tawaran Beasiswa

Filed under: no comment

Berita ini udah agak lama, tapi gak apa-apa deh, mungkin belum banyak yang tau emoticon  

 

Krisma, Anak Penjual Es Peraih Medali Perak Lomba Astronomi di Italia


Seorang pelajar SMP Negeri I Bondowoso mengharumkan nama bangsa Indonesia. Adalah Krisma Sandy Komarruzaman, 14, siswa kelas 8, yang berhasil membawa pulang medali perak dalam lomba International Astronomy Olympiad (IAO) yang diselenggarakan di Trieste Italia 13-21 Oktober lalu.

Eko Saputro, Bondowoso

——————————————————-

Rumah di Jl Diponegoro Gg Daun Emas Bondowoso itu terlihat sangat sederhana. Temboknya masih berupa batu-bata yang belum dikuliti. Meski demikian, di ruang tamu rumah yang sederhana itu banyak bergelantungan piagam penghargaan. Ya, di rumah itulah Sandy, arek Bondowoso yang mempunyai pretasi cemerlang tinggal.

Saat wartawan koran ini mendatangi rumahnya, Sandy ditemani ibunya, Nur Fadilah, 35, yang sehari-hari buka warung es degan dan rokok di pinggir Jalan Diponegoro. Sedangkan Sukartoyo, 35, bapaknya karyawan SPBU Tapen.

Menurut Nur Fadilah, bakat Sandy mulai terlihat sejak duduk di bangku TK Aisyiyah Bondowoso. "Saat itu, Sandy sudah mulai bisa berhitung. Saat ditanya soal perkalian sederhana, dia bisa menjawab tepat. Misalkan tiga kali tiga, maka Sandy menjawab sembilan. Tentu saja, kita semua tertawa melihat perilaku Sandy," katanya.

Lalu saat menginjak kelas IV di bangku SD Dabasah I, pihak sekolah melihat bakat Sandy pada bidang matematika. Sandy akhirnya dikirim ke berbagai lomba olimpiade matematika mewakili sekolahnya. Dan, ia pun pulang membawa trofi dan piagam penghargaan. "Piagam penghargaan itu difigura. Dan saya letakkan di dinding rumah," ujarnya.

Berbagai penghargaan itu antara lain Olimpiade MIPA tingkat SD se-Jatim tahun 2006 meraih emas, Olimpiade Sains Tingkat Jatim meraih perak, Olimpiade Matematika Tingkat Jatim yang diselenggarakan Unej Jember meraih emas, serta masih banyak lagi penghargaan lainnya.

Tak heran, ketika akan melanjutkan ke bangku SMP, ada tawaran dari sekolah favorit di Jember agar Sandy melanjutkan ke sekolah tersebut. "Tetapi kami menolak. Karena Sandy masih kecil dan akan jauh dari orang tua kalau sekolah ke Jember. Akhirnya, Sandy sekolah di SMP Negeri I Bondowoso," katanya.

Di SMP Negeri I Bondowoso, prestasi Sandy semakin moncer saja. Saat duduk di bangku kelas 8, Sandy dikirim mengikuti lomba IAO (International Astronomy Olympiad) di Italia. Kepada Erje, Sandy menuturkan lomba IAO itu diikuti ratusan peserta yang berasal dari 49 negara. Saingan terberat dari Korsel dan Rusia. "Indonesia juga mengirimkan beberapa wakilnya, salah satunya adalah saya," ujarnya.

Sandy menjelaskan, saat mengikuti dalam lomba itu, ia merasa grogi. Karena melihat penampilan peserta lainnya yang meyakinkan. Pakai kaca mata, muka serius, badan bongsor. "Tetapi saya punya motto. Tidak usah takut pada lawan. Karena lawan juga takut pada kita. Akhirnya grogi itu hilang dengan sendirinya," katanya.

Dalam lomba itu, Sandy menjelaskan dirinya harus mengerjakan soal-soal teori yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Juga, soal praktik dan observasi. Dalam pengerjaan soal itu, salah satu di antaranya ia harus menghitung tingkat kecerlangan (magnitudo) berbagai bintang yang ada di alam semesta. Termasuk matahari. Dia memakai patokan bintang Vega yang punya magnitudo 0 dalam membandingkan dengan bintang-bintang lainnya. "Kalau matahari kita punya magnitudo minus 27," katanya.

Sandy yang berdasar hasil tim psikotes di Jakarta mempunyai IQ 158 itu menuturkan, sebelum terjun ke Itali dia harus menjalani pembinaan soal-soal Astronomi selama berbulan-bulan di Bandung. "Kami dibimbing oleh dosen dari ITB," katanya.

Sandy yang menurut penuturan ibunya jarang belajar itu, ternyata mampu menyerap dengan baik arah dan bimbingan dosen pembimbingnya. Dia unggul dalam bidang fisika, matematika, dan astrofisika. Tak heran, dia berhasil membawa pulang medali perak dari Italia. Kini, atas prestasi cemerlangnya itu, ia mendapat tawaran beasiswa dari sebuah sekolah unggulan yaitu SMA Semesta Semarang. "Ya, tentunya, saya masih berpikir untuk melanjutkan sekolah ke SMA Semesta Semarang. Sekolah itu punya mutu yang bagus. Setara dengan SMA Taruna Magelang," katanya.

Namun begitu, untuk menempuh pendidikan S1 dan S2 -baik di dalam negeri maupun luar negeri- Sandy sudah mendapat jaminan beasiswa dari Dikdasmen. Bahkan, Dikdasmen memberi uang pembinaan sebasar Rp 20 juta kepada Sandy.

[sumber : http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=38739]

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://dudi.blogsome.com/2009/02/14/sempat-grogi-banjir-tawaran-beasiswa/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main