Peluang Bisnis!
Berita ini udah agak lama, tapi gak apa-apa deh, mungkin belum banyak yang tau
Krisma, Anak Penjual Es Peraih Medali Perak Lomba Astronomi di Italia
Seorang pelajar SMP Negeri I Bondowoso mengharumkan nama bangsa Indonesia. Adalah Krisma Sandy Komarruzaman, 14, siswa kelas 8, yang berhasil membawa pulang medali perak dalam lomba International Astronomy Olympiad (IAO) yang diselenggarakan di Trieste Italia 13-21 Oktober lalu.
Eko Saputro, Bondowoso
——————————————————-
Rumah di Jl Diponegoro Gg Daun Emas Bondowoso itu terlihat sangat sederhana. Temboknya masih berupa batu-bata yang belum dikuliti. Meski demikian, di ruang tamu rumah yang sederhana itu banyak bergelantungan piagam penghargaan. Ya, di rumah itulah Sandy, arek Bondowoso yang mempunyai pretasi cemerlang tinggal.
Saat wartawan koran ini mendatangi rumahnya, Sandy ditemani ibunya, Nur Fadilah, 35, yang sehari-hari buka warung es degan dan rokok di pinggir Jalan Diponegoro. Sedangkan Sukartoyo, 35, bapaknya karyawan SPBU Tapen.
Menurut Nur Fadilah, bakat Sandy mulai terlihat sejak duduk di bangku TK Aisyiyah Bondowoso. "Saat itu, Sandy sudah mulai bisa berhitung. Saat ditanya soal perkalian sederhana, dia bisa menjawab tepat. Misalkan tiga kali tiga, maka Sandy menjawab sembilan. Tentu saja, kita semua tertawa melihat perilaku Sandy," katanya.
Lalu saat menginjak kelas IV di bangku SD Dabasah I, pihak sekolah melihat bakat Sandy pada bidang matematika. Sandy akhirnya dikirim ke berbagai lomba olimpiade matematika mewakili sekolahnya. Dan, ia pun pulang membawa trofi dan piagam penghargaan. "Piagam penghargaan itu difigura. Dan saya letakkan di dinding rumah," ujarnya.
Berbagai penghargaan itu antara lain Olimpiade MIPA tingkat SD se-Jatim tahun 2006 meraih emas, Olimpiade Sains Tingkat Jatim meraih perak, Olimpiade Matematika Tingkat Jatim yang diselenggarakan Unej Jember meraih emas, serta masih banyak lagi penghargaan lainnya.
Tak heran, ketika akan melanjutkan ke bangku SMP, ada tawaran dari sekolah favorit di Jember agar Sandy melanjutkan ke sekolah tersebut. "Tetapi kami menolak. Karena Sandy masih kecil dan akan jauh dari orang tua kalau sekolah ke Jember. Akhirnya, Sandy sekolah di SMP Negeri I Bondowoso," katanya.
Di SMP Negeri I Bondowoso, prestasi Sandy semakin moncer saja. Saat duduk di bangku kelas 8, Sandy dikirim mengikuti lomba IAO (International Astronomy Olympiad) di Italia. Kepada Erje, Sandy menuturkan lomba IAO itu diikuti ratusan peserta yang berasal dari 49 negara. Saingan terberat dari Korsel dan Rusia. "Indonesia juga mengirimkan beberapa wakilnya, salah satunya adalah saya," ujarnya.
Sandy menjelaskan, saat mengikuti dalam lomba itu, ia merasa grogi. Karena melihat penampilan peserta lainnya yang meyakinkan. Pakai kaca mata, muka serius, badan bongsor. "Tetapi saya punya motto. Tidak usah takut pada lawan. Karena lawan juga takut pada kita. Akhirnya grogi itu hilang dengan sendirinya," katanya.
Dalam lomba itu, Sandy menjelaskan dirinya harus mengerjakan soal-soal teori yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Juga, soal praktik dan observasi. Dalam pengerjaan soal itu, salah satu di antaranya ia harus menghitung tingkat kecerlangan (magnitudo) berbagai bintang yang ada di alam semesta. Termasuk matahari. Dia memakai patokan bintang Vega yang punya magnitudo 0 dalam membandingkan dengan bintang-bintang lainnya. "Kalau matahari kita punya magnitudo minus 27," katanya.
Sandy yang berdasar hasil tim psikotes di Jakarta mempunyai IQ 158 itu menuturkan, sebelum terjun ke Itali dia harus menjalani pembinaan soal-soal Astronomi selama berbulan-bulan di Bandung. "Kami dibimbing oleh dosen dari ITB," katanya.
Sandy yang menurut penuturan ibunya jarang belajar itu, ternyata mampu menyerap dengan baik arah dan bimbingan dosen pembimbingnya. Dia unggul dalam bidang fisika, matematika, dan astrofisika. Tak heran, dia berhasil membawa pulang medali perak dari Italia. Kini, atas prestasi cemerlangnya itu, ia mendapat tawaran beasiswa dari sebuah sekolah unggulan yaitu SMA Semesta Semarang. "Ya, tentunya, saya masih berpikir untuk melanjutkan sekolah ke SMA Semesta Semarang. Sekolah itu punya mutu yang bagus. Setara dengan SMA Taruna Magelang," katanya.
Namun begitu, untuk menempuh pendidikan S1 dan S2 -baik di dalam negeri maupun luar negeri- Sandy sudah mendapat jaminan beasiswa dari Dikdasmen. Bahkan, Dikdasmen memberi uang pembinaan sebasar Rp 20 juta kepada Sandy.
[sumber : http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=38739]
Katanya Viva La Vida - Coldplay, nyontek Joe Satriani - If I Could Fly.
Katanya Joe Satriani - If I Could Fly, nyontek Enanitos Verdes - Frances Limon.
anything else?
Klip Viva La Vida –> Chris Martin nyontek gayanya Giring 
Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Ali Mustafa Ya’qub menjelaskan hasil Ijtima’ Ulama Fatwa III MUI di Kabupaten Padang Panjang, Padang, Sumatera Barat.
"Wajib bagi bangsa Indonesia untuk memilih pemimpin. Kalau yang dipilih ada namun tidak dipilih, menjadi haram,"
"Bukankah tolok ukur baik dan buruk figur calon legislatif, calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) itu sangat subyektif?"
"Kenyataannya masih ada yang baik-baik. Andaikata tidak ada yang baik, tetap harus memilih. Dipilih yang tingkat keburukannya paling rendah," imbuh Ali.
Dia menjelaskan, fenomena golput kalau dibiarkan, akan berbahaya. "Kalau nggak memilih berbahaya, bisa nggak punya pemimpin," ujar Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu al-Quran (IIQ) ini.
Fatwa ini, lanjutnya adalah kewajiban moral. "Orang yang nggak mau ikut Pemilu itu berdosa menurut hukum Islam," pungkas dia.
[di-edit dari DetikCom]
This morning headline was "the Super Flying Shoes".
I was surprised when knew about it. Shoes were flying over Mr.Bush head.
Was it a sircus show? NO. It was totally anger from the thrower.
Why ?
Here it is.
Mr. Bush : " Iraq war is not over, more work ahead ",
and then…
X-men : "This is your farewell kiss, you dog!" .
"This is from the widows, the orphans and those who were killed in Iraq."
and the shoes were flying.
(un)fortunately , it missed. 

Bahasanya sederhana untuk menjelaskan krisis ekonomi yang terjadi di Amerika
Kalau Langit Masih Kurang Tinggi
Oleh: Dahlan Iskan
Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.
(more…)
Liputan 6 pagi, Nuansa Pagi, Redaksi Pagi, Cerita Pagi, Liputan 6 siang, Reportase sore, Seputar Indonesia, Koran, detik.com…
Hampir semua media membahas pembunuhan berantai yang terkuak setelah peristiwa mutilasi ragunan terungkap.
Siapa pelakunya ? Salah seorang gay, lelaki penyuka sesama jenis.
semenjak itu, satu persatu berita mulai mengekspos dunia per-gay-an. Bagaimana lingkungan mereka, dimana biasanya komunitas mereka, sampai apa yang menyebabkan mereka menjadi begitu.
Banyak alasan, mulai dari pelampiasan sakit hati karena punya pengalaman pahit dengan wanita, orang tua yang salah mendidik anak laki-laki dengan didikan kemayu (pakaian, tingkah laku, dsb), atau (mungkin) takut berkeluarga sehingga mencari pasangan yang tidak seharusnya.
Pelan-pelan kaum ini mulai berkembang di Indonesia, sebuah negeri yang (katanya) mengharamkan hubungan sejenis semacam ini.
APAKAH, Indonesia akan menjadi The Next SODOM? sebuah negeri yang dilaknat Oleh Allah dan semesta alam, dijungkir-balikkan dengan hujan batu tanpa ampun… ? Semoga tidak…
@#$%#$#^&*%@!?>*^&($)#*@#&%@*%$(@
Dengan suara berat, bapak imam itu berbalik mengucap salam seketika selesai sholat Dhuhur.
Sambil terisak, beliau mengingatkan jamaah akan pentingnya bulan Rajab ini, sembari berdoa semoga dipanjangkan umur hingga mencapai Ramadhan tiba.
Di usia yang mulai senja, beliau masih sangat memikirkan bangsa ini. Beliau sangat menyayangkan berbagai kejadian yang berkaitan dengan Islam. Terutama masalah Ahma**y*h. Yang sangat beliau khawatirkan adalah justru peran para public figur yang berada di balik itu semua.
Satu pesan yang benar-benar membuatku harus intropeksi.
"Pemuda Islam itu jangan cuma bisa Sholawatan. Berbuatlah sesuatu untuk Islam dan untuk bangsamu."
Duh Gusti, Bapak imam itu masih sangat mencintai bangsa ini. bagaimana denganku… ?
Ketika aku berdiri menggelantung di dalam sebuah bus transJ Ragunan-Kuningan tadi pagi, melintas sebuah metromini 75 dengan tulisan gedhe di kaca belakang “Gembel Necis” . Sejenak tersenyum lucu, namun kemudian berpikir apa maksudnya…
Hmm, lalu iseng baca berita milis, akhirnya ada artikel yang bisa menjawab tanyaku tadi.
berikut copy paste dari milis tsb …
(more…)Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main