D . U . D . I

4 February 2009

Rp. 1000 & Rp. 100.000, apa bedanya?

Filed under: Pelajaran

Konon katanya, Rp.1000 dan Rp. 100.000 memiliki asal-usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di PERURI dengan bahan dan alat-alat yang oke. Pertama kali keluar dari PERURI, uang Rp. 1000 dan Rp. 100.000 sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik.. Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang Rp. 1000 dan Rp. 100.000 bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda.

Uang Rp. 100.000 berkata pada uang Rp. 1000 :"Ya, ampiiiuunnnn. ……….. darimana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan…… bau! Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan ….. Ada apa denganmu?"

Uang Rp. 1000 menatap uang Rp. 100.000 yang masih keren dengan perasaan nelangsa.

Sambil mengenang perjalanannya, uang Rp. 1000 berkata : "Ya, beginilah nasibku , kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh dengan darah dan taik ayam. Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk, dari sana saya hijrah ke ‘baluang’ (pren : tau kan baluang…?) Inang-inang. Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh, karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas. ……."

Uang Rp. 100.000 mendengarkan dengan prihatin.: "Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm… dompetnya harum sekali. Setelah dari sana , aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus. Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan…… aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu. "

Uang Rp. 1000 terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya : "Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman. Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu!"

"Apa itu?" uang Rp. 100.000 penasaran.

"Aku sering bertemu teman-temanku di kotak-kotak amal di mesjid atau di tempat-tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana….."

 

[ hehe, berarti klo begitu Rp. 1000 lebih ‘alim daripada Rp. 100.000 ]

4 December 2008

Kecerdasan Buatan

Filed under: Pelajaran

disadur dari  Joko Nurjadi (http://jokonurjadi.blogspot.com/2008/10/kecerdasan-buatan.html)

Menciptakan manusia pintar memang hanya Tuhan yang mampu, tetapi manusia ternyata mampu menciptakan mesin pintar. Bahkan, mesin yang lebih pintar dari manusia.

Tahun 1997, adalah tahun kelabu bagi Garry Kasparov sang juara dunia catur saat itu. Tepatnya pada tanggal 11 Mei 1997, Garry Kasparov harus mengakui keunggulan mesin catur buatan IBM yang dinamakan Deep Blue.

Garry Kasparov dikalahkan dalam duel catur manusia melawan mesin, yang dimainkan sebanyak 6 pertandingan. Deep Blue memetik 2 kemenangan, Garry Kasparov memetik 1 kemenangan, sementara 3 pertandingan lainnya berakhir draw atau remis.

Event tersebut menandai pertama kalinya dalam sejarah, sebuah mesin komputer mampu mengalahkan seorang juara dunia catur.

Mengapa hal tersebut merupakan sesuatu yang menggemparkan? Bukankah sebuah kalkulator sederhana sejak dulu telah mampu menghitung angka-angka lebih cepat dari kebanyakan otak manusia? Ternyata tidak semudah itu mendefinisikan kecerdasan buatan, atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Artificial Intelligence.

Dapatkah Mesin Berpikir?
(more…)

12 September 2008

Janganlah Begitu..

Filed under: Pelajaran

"Bermegah-megah telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur,
janganlah begitu karena kelak kamu akan mengetahui,  janganlah begitu
kelak kamu akan mengetahui akibat dari perbuatanmu dengan pengetahuan
yang yakin, niscahya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim dan
sesungguhnya akan melihat dengan  ainulyaqin, pada saat itu kamu akan
ditanyai tentang kenikmatan yang kamu megah-megahkan di dunia"  (At
Takatsur)

(more…)

13 August 2008

Web Service

Filed under: Pelajaran

In order for business to free itself from technology, the business logic must be separated from the plumbing.

Web service technology is what allows us to make this separation, creating business service components from business applications. The business logic sits above the plumbing in the business services layer. These business service component bring to the business the same efficiencies of reuse, ease of change, and consistency of results as Web Services do on the programming level. And this is a big deal. The business service layer ensures that the business can respond quickly to the new opportunitites by making changes to business services without having to change the plumbing. Business can change without rewriting the world because business components, like stereo components, can be swapped in and out as needed.

– SOA for dummies 

11 May 2008

“Permudah dirimu dengan kejujuranmu”

Filed under: Pelajaran

Dengan menjadi jujur, segalanya menjadi mudah dan dimudahkan.
Namun ketika sekali saja mencoba tidak jujur, nampak nyata hasil yang akan didapat.

Mau jujur atau tidak, Semua cash langsung bisa didapatkan hasilnya.

Mari kita buktikan!

18 March 2008

Kenyamanan Semu Sahabat Palsu

Filed under: Pelajaran

Dari milis tetangga :

Arti seorang sahabat dalam kehidupan setiap manusia memang penting, walau gak melulu setiap manusia punya sahabat dan ingin memilikinya. Kadang dalam beberapa kondisi kita memerlukan hadirnya sosok sahabat yang dapat membantu menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi. Atau sahabat itu hadir hanya sekedar mendengarkan keluh kesah sabahatnya, tapi itu cukup membantu dan melegakan.
Sahabat akan dengan senang hati membantu dan menemani kita dalam kondisi apa pun. Sahabat tidak akan meninggalkan kita ketika mengetahui kejelekan (bahkan semuanya keburukan yang tampak di matanya) ada pada diri kita. Ia menjadi sosok penyokong dalam kehidupan kita. Sahabat adalah orang yang dapat mengetahui apa-apa yang tak dikatakan.
Apakah antum memiliki seorang atau beberapa orang sahabat? Jika ya… Selamat! tapi,…
Begitu luasnya makna persahabatan kadang sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Yang mengatasnamakan persahabatan dan menjalin ukhuwah dengan lawan jenis juga mengatasnamakan persahabatan. Padahal, niat ikhlas yang awalnya hanya sekedar ingin menolong (biasanya ikhwan yang ingin menolong teman akhwatnya), malah terjerumus menjadikan seseorang itu menjadi sahabatnya, ya, sahabat ‘dekat’nya. Di pihak yang ditolong pun demikian, ia juga menjadikan sang penolong itu menjadi super hero baginya, sahabat yang tak tergantikan. Sedikit demi sedikit alur kehidupan masing-masing diceritakan lebih mendalam, hingga tidak ada pihak lain (sahabat sebenarnya) yang boleh mengetahui pembicaraan mereka. Mereka begitu introfert dengan orang lain. Tapi terbuka sekali dengan ’sahabat’nya ini.
Tapi, kadang orang sering menyalahi aturan-aturan yang sudah jelas-jelas DILARANG. Entah karena hati yang sudah tidak sabar ketika menyadari terlalu cepatnya pertumbuhan cinta yang ada di dalam dadanya. Atau karena memang nafsunya yang sudah memperalat dan menguasai jiwa dan ruhaninya.
Sesungguhnya ketika hati seorang anak manusia telah condong kepada lawan jenisnya, dan ia terus dan terus memupuknya maka cinta itu akan tumbuh dengan suburnya. Dan ketika ia coba untuk membunuhnya dengan cara perlahan, sungguh ia bagai memangkas daun-daun dan batangnya saja dari sebuah tanaman yang hasilnya akan kembali subur dengan air hujan dan sinar matahari, bahkan bisa menjadi lebih besar dan daunnya akan semakin lebat.
Mengapa ia tidak mencari akarnya, sumber dari masalah itu. Saya yakin kita pasti dapat menemukan akar itu. Yang tau mengenai kita hanyalah Allah dan diri kita sendiri. Jadi seberat apa pun, dan sesulit apa pun, saya yakin kita pasti sanggup untuk melawan itu. Tidak mungkin Allah menguji hambanya sampai-sampai ia tidak sanggup untuk memikulnya. Masalahnya adalah bagaimana ia dapat sabar menghadapinya, dan penyikapan yang dapat menghantarkannya pada derajat yang lebih tinggi. Ya, karena Allah menyayangi kita.
Seperti dikisahkan ketika sayyidah Fatimah melihat ayahnya menangis hingga wajahnya pucat dan pipinya menjadi cekung. Ia bertanya kepada ayahnya mengapa sampai ayahnya menangis seperti itu. Nabi saw menjawab bahwa malaikat Jibril telah datang kepadanya, kemudian ia menggambarkan kondisi neraka. Neraka mempunyai tujuh pintu, dan pintu-pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu celah api. Pada setiap celah ada tujuh puluh ribu peti mati dari api, dan setiap peti berisi tujuh puluh ribu jenis azab. Dan yang mendapat azab seperti itu adalah Umatnya yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak memelihara shalat, dan azab itu tidak seberapa dibangingkan dengan azab-azab yang lainnya..
Dari kisah tersebut, dapat kita ketahui bahwa orang yang memperturutkan hawa nafsunya dapat mendapat ganjaran seperti itu. Masya Allah, apakah kita termasuk salah satu di antaranya. Na’udzubillahi mindzalik.
Allah telah menganugerahkah hati yang kalau hati itu baik, maka baik semua anggota yang lain. Tetapi, jika hatinya buruk, maka buruk juga semua anggota yang lain.
Rasa suka atau tertarik kepada lawan jenis itu memang sudah menjadi fitrahnya manusia. Tapi bagaimana cara kita menjaga ‘fitrah’ itu hanya dengan orang yang berhak mendapatkannya. Jangan kita malah mengumbarnya semau kita. Managemen untuk hati itu penting. Kalau sudah ada yang singgah di hati, waahhh… ujung-ujungnya kita yang akan sakit sendiri (kalau kita salah menempatkan hati tentunya). Berkhalwat dengan bukan muhrimnya, masya Allah, sudah sangat amat sering kita temui, tapi kebanyakan pelakunya tidak sadar diri. Mereka sering kali menganggap hal itu wajar. Dari sekedar sms tausyah (yang tanpa sengaja telah mengotori hari saudara/inya yang mendapat kiriman itu) yang sampai akhirnya malah saling curhat, menceritakan kisah hidup yang gak penting buat diceritakan kepada yang bukan mahrom itu. Tukeran hadiah,  janjian bareng dengan alasan tugas atau apa pun itu, saling suport, dan akhirnya ketergantungan yang hadir di antara jiwa-jiwa itu. Rasa membutuhkan yang amat ketika salah satu tidak memberi sms tausyahnya, merasa sedih ketika salah satu tidak menanggapi curahan isi hatinya, dan merasa kehilangan ketika tidak ada lagi hadiah yang mampir menghampiri paginya (walau hadiah itu cuma senyuman atau sekedar sapaan).
Wahai sahabat, sadarlah engkau dari semua ini, bangunlah engkau dari tidurmu yang di dalamnya ada mimpi buruk itu. Tidak akan ada pengganti sebaik pasanganmu mendatang yang jika engkau selalu memperbaiki akhlakmu sejak kini. Karena di sana, beliau (calon pendamping kita) juga sedang memperjuangkan dirinya untuk segera menemui kita, dengan memperbaiki akhlaknya. Tapi ketika kita sekarang, di sini sedang berkhalwat dengan non mahrom, jangan salahkan ‘beliau’ juga ketika sekarang pun sedang berkhalwat dengan orang lain. Ketika sekarang, kita sedang banyak-banyaknya menimba ilmu Allah, bergembiralah karena ‘beliau’ pun sedang menimba mereguk ilmuNya Allah yang Mahaluas itu. Doakan selalu yang terbaik untuk ‘beliau’ dengan begitu, ‘beliau’ pun sedang berdoa kepadaNya agar kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Hingga nanti dipertemukan Allah dalam keadaan yang sebaik-baiknya.
Aamiin…
Saudara/iku, hidup itu sebuah pilihan, seperti Allah juga memberikan pilihan buat kita hambanya, manusia, dan makhluk ciptaanNya untuk memilih kafir atau tetap berada di jalaNya.
Jangan biarkan dirimu jatuh terlena dalam nafsu sesaat yang akibatnya dapat memengaruhi kehidupan akhiratmu.  Tinggalkan ‘kenyamanan-kenyaman an‘ semu yang hanya menipu kita. Di sana syetan tertawa melihat kita ‘kalah‘ dalam peperangan yang kita ciptakan sendiri.

Saya (yang sedang memperbaiki diri) menulis kali ini karena sedih melihat saudara/i yang sedang ber’sedih’ karena hal-hal ‘duniawi’

Wallahu’alam bish showab
Rafa Zulfah al-Faqir ilallah
Bekasi, 5 Januari 2008 11.30

 

13 March 2008

“Ibuku Pahlawanku”

Filed under: Pelajaran

Trisnawati, Gadis yang Masih Trauma setelah Diselamatkan Ibunya dari Terkaman Buaya
Naluri seorang ibu adalah melindungi anak dari bahaya apa pun. Ini sudah dilakukan Ny Rohima. Tanpa berpikir panjang, dia nekat bergumul dengan buaya yang menerkam putrinya. Sang putri bisa diselamatkan. Hingga kemarin, dia masih tergolek lemah di rumah sakit.

ASEP YUSRIANSYAH, Palembang

Peristiwa itu tak akan pernah dilupakan Ny Rohima seumur hidup. "Saya sebenarnya takut dengan buaya. Dengan ular saja saya tidak berani," kata wanita 40 tahun itu, yang kemarin ditemui wartawan Sumatera Ekspres (Grup Jawa Pos) di RSU Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel).

Hampir setiap hari Rohima harus menunggui putri keduanya itu yang sudah dirawat di rumah sakit selama sepekan. "Anak saya masih sering menggigau kalau tidur. Karena itu, saya harus menunggui dia setiap malam," cerita wanita yang wajahnya terkesan lebih tua dari usianya itu.

Selain tak tega meninggalkan sang putri yang tergolek sakit, Rohima harus berhitung waktu dan biaya jika pulang-pergi ke rumah sakit.

Maklum, dari rumah sakit ke rumah Rohima di Desa Mukut, Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, harus naik speed boat. Tidak bisa dengan jalan darat. Perjalanan lewat sungai itu ditempuh dalam waktu 2,5 jam.

Kemarin Sumeks sebenarnya berniat mewawancarai Trisnawati. Tapi, gadis 25 tahun itu sulit diajak bicara. Wajahnya masih terlihat tegang. "Pasien masih trauma, Mas. Tolong, jangan diwawancarai dulu," sergah salah seorang perawat di RSU Banyuasin.

Menurut Rohima, peristiwa diterkam buaya itu memang menyisakan trauma mendalam bagi putrinya. "Dia jadi takut sungai. Dia sering mengatakan kepada saya, kalau sudah sembuh, tidak akan pergi ke sungai lagi," paparnya.

Rohima bisa memahami mengapa putri keduanya itu sangat trauma. "Peristiwa itu memang sangat mengerikan," kata Rohima dengan kedua mata menerawang.

Dia menceritakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 06.00. Saat itu Trisnawati pergi ke Sungai Batang Hari Mukut untuk mandi. Rumah Trisnawati memang hanya 100 meter dari sungai. "Pagi itu suasana di sungai memang masih sangat sepi," tuturnya.

Ketika asyik mandi, tanpa diduga seekor buaya langsung menyambar kaki Trisnawati. Gadis itu kontan menjerit minta tolong. Beruntung, saat itu Rohima berada di halaman rumah. Dia mendengar suara jeritan dan langsung menebak bahwa itu suara putrinya.

Rohima berlari sekencang-kencangnya ke sungai. Rohima menyaksikan tubuh putrinya diseret buaya ke arah tengah sungai. "Buaya itu besar sekali. Warnanya agak kehitaman. Panjangnya kira-kira 7 meter," cerita Rohima.

Kejadian itu membuat darah Rohima mendidih. Apalagi, dia menyaksikan tubuh anaknya yang sedang meronta-ronta itu dipermainkan buaya, dimunculkan ke permukaan, lantas ditenggelamkan, dimunculkan, lalu ditenggelamkan.

"Saya langsung mencebur ke sungai, mendekat ke arah hewan keparat itu," katanya dengan nada tinggi. Padahal, sebelumnya Rohima mengaku sangat takut dengan buaya. "Karena anak saya diterkam, rasa takut itu hilang," ceritanya.

Begitu mendekat, dengan sekuat tenaga Rohima bergumul dengan buaya itu. "Saya tendang-tendang tubuhnya. Mulutnya yang menggigit kaki Trisna saya pegang, saya buka, agar gigitan itu lepas," tuturnya bersemangat.

Upayanya membuahkan hasil. Kaki kanan anaknya akhirnya lepas dari gigitan buaya. Dengan cepat Rohima membawa anaknya ke tepi sungai. Trisna sudah dalam keadaan pingsan.

Rohima sangat bersyukur karena bisa cepat menolong putrinya. "Begitu melihat anak saya diterkam, saya sempat mengira nyawanya tidak akan tertolong," katanya.

Saat itu dia berpikir, meski tak bisa menyelamatkan nyawa putrinya, setidaknya bisa mengambil jasadnya. "Ternyata Allah masih menyelamatkan anak saya," ujarnya.

Kini, sepekan berlalu, kondisi Trisna belum pulih. Dia menderita luka sangat serius di kaki kanan, mulai paha, betis hingga tungkai. "Lukanya sangat dalam. Total harus menerima 50 jahitan," kata perawat.

Peristiwa itu membuat warga di desa tempat tinggal Rohima diliputi kecemasan. Sejak tragedi itu, kehidupan warga di sana berubah. Jika awalnya mereka kerap memanfaatkan air sungai untuk berbagai keperluan, mulai memasak, mencuci hingga mandi, kali ini tidak lagi.

Mereka takut buaya akan muncul sewaktu-waktu. "Peristiwa yang dialami Trisna membuat kami tak berani lagi pergi ke sungai," kata Ismail, 60, salah seorang warga Desa Mukut.

Dia menceritakan, buaya di sungai itu ada sejak dia pertama menginjakkan kaki di Desa Mukut pada 1963. "Sebelum desa didiami, Sungai Mukut memang sudah banyak buayanya. Buaya tersebut beranak cucu di sungai itu sehingga jumlahnya mencapai puluhan ekor," katanya.

"Tapi, buaya-buaya itu tak pernah mengganggu. Baru kali ini mereka menerkam warga," paparnya.

Dia melanjutkan, keganasan buaya tersebut dimulai awal Februari lalu. Hingga kini, tiga orang telah tewas dan satu terluka," ujarnya.

Salah satu korban tewas adalah Putra Rojal, 25, anak kepala Dusun (Kadus) Kampung II Desa Mukut. Rojal tewas setelah diseret buaya ketika mandi pagi di Sungai Mukut, sekitar awal Februari lalu.

Di tempat terpisah, Kepala Desa (Kades) Mukut Ismiyanto mengaku sudah menghimpun relawan untuk diajak menangkap buaya. Upaya itu didukung aparat Dandim, Koramil, Polres, dan polisi hutan. Pawang buaya juga dilibatkan.

"Bagaimana teknisnya? Apakah ditangkap atau dibunuh, kita lihat saja bagaimana kondisi di lapangan. Jika sulit ditangkap hidup-hidup, terpaksa ditembak mati saja. Yang penting, buaya tersebut tidak mencelakai penduduk lagi," kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Banyuasin Ali Imron Bamin, dihubungi melalui Kasubag Sarana Prasarana dan Perlindungan Mursyid. (*)

 

http://www.jawapos.com - 13 Maret 2008 

11 March 2008

Pasti Akan Tiba…

Filed under: Pelajaran

Akan datang hari, mulut dikunci, kata tak ada lagi…

7 June 2006

#Pelajaran ke-4

Filed under: Pelajaran

Senin, 5 Juni 1006 : Masjid Nurul Yaqin

Bismillahirrohmanirrohim

Pentingnya Shodaqoh dan Saling Memaafkan 

- Rosululloh Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : "Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan seteguk air." 1).

Dari perintah Rosulullah ini, dapat kita ambil hikmah yaitu, sedekah/shodaqoh hendaknya dimulai dari hal2 yang kecil/ringan. Hal ini dimaksudkan agar kita bisa menjadikannya suatu kebiasaan dalam keseharian kita. ada pepatah, "ala bisa karena biasa" emoticon.

- Shodaqoh adalah ibadah wajib orang2 yang diberi kelebihan oleh Allah berupa harta dan kekayaan.

- Dalam bershodaqoh, hendaknya orang2 yang dekat dengan kita didahulukan antara lain : orang tua, saudara, handai taulan, tetangga, kerabat, orang2 yang dlm perjalanan (musafir). Sangat disayangkan jika kita bersedekah untuk orang lain, sementara orang2 dekat kita belum terurus, misalnya, kita sangat giat sodaqoh untuk membantu saudara2 kita di Aceh, Jogja, dll, akan tetapi diantara keluarga kita masih ada yang kekurangan.

- Memaafkan kesalahan orang lain adalah suatu tindakan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Memang, memaafkan kesalahan seseorang adalah suatu hal yang sangat berat, akan tetapi, seharusnya kita malu kepada Allah jika kita malas memaafkan orang lain. Allah saja Maha Pemaaf atas kesalahan seorang hamba apapun dan sebesar apapun kesalahan itu, masak kita seorang hamba yang hina, tidak mau memaafkan kesalahan saudara kita ?

================

1) taken from http://tazco.blogspot.com/2005_10_01_tazco_archive.html 

1 June 2006

#Pelajaran ke-3

Filed under: Pelajaran

Kamis, 1 Juni 2006, Masjid Nurul Yaqin

- Al-Qur’an mengajarkan pada kita untuk senantiasa berjalan di atas permukaan bumi, guna memperhatikan segala macam hasil penciptaan Allah Subhanahu Wata’ala.

- Selain itu kita juga diperintah untuk mengetahui apa yang pernah terjadi di jaman para Nabi dahulu, seperti yang terjadi pada kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan kaum Fir’aun. Itulah akibat dari kaum2 yang mendustakan para Rasul utusan Allah.

- Tiap makhluk di muka bumi ini tidak pernah tau kapan sang ajal tiba, oleh karena itu Allah memerintahkan orang orang yang beriman untuk "bersegera" dalam beramal sholeh.

- Rasulullah Muhammad Sallallahu ‘alaihi Wasallam, dalam berdakwah tidak hanya dengan ucapan/perkataan, tetapi juga dengan perilaku beliau sehari2. Bahkan, menurut riwayat, banyak kaum ibu yang berbondong bondong masuk Islam hanya karena melihat raut wajah Rasulullah yang  tidak pernah tampak sebagai seorang pendusta. Itulah wajah Rasulullah yang mulia.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main